Minggu, 28 April 2013

OTAK DAN FUNGSI SARAF


LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
Mata Kuliah:Anatomi dan Fisiologi Manusia

OTAK DAN FUNGSI SARAF
O
L
E
H
NAMA:
ANISA ZUHALMI
EVI SUNILAWATI
JASMAN FERI
NUR FITRI
JURUSAN:BIOLOGI NONDIK
PROGRAM:S1
KELOMPOK:4
TGL.PELAKSANAAN:

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN





I.JUDUL PERCOBAAN:OTAK DAN FUNGSI SARAF
II.TUJUAN :
            1)memeriksa fungsi sebagian besar saraf otak besar
            2)memeriksa fungsi otak kecil
            3)membandingkan kecenderungan fungsi saraf pada setiap praktikan

III.TINJAUAN TEORITIS:
Serebrum atau otak besar tersusun atas dua hemister serebral. Serebrum juga terdiri atas korteks serebral, ventrikel I dan II, korpus kalosum, fisura, sulkus, dan girus. Kortek terdiri dari enam lapisan sel dan serbut sel. Vantrikel I dan II terletak di dalam hemister serebral. Korpus kolasum terdiri dari serabut termielinisasi, dan menyatukan kedua hemister. Setiap hemister terbagi oleh fisura dan kulkus menjadi empat lobus. Fungsi girus yaitu bertanggung jawab untuk aktivitas motorik volunteer yaitu girus prasentral, dan girus postural yang terlibat dalam aktivitas sensorik(Sloane,1994).
Seseorang dapat membau karena zat yang berupa gas tersebut masuk melalui rongga hidung saat menarik nafas. Zat ini kemudian larut dalan selaput lendir dalam hidung yang kemudian diterima oleh saraf pembau. Selanjutnya, saraf pembau menghantarkan impuls ke otak sehingga otak merespon dengan menimbulkan kesan bau (Nursing411, 2012). Nervus olafaktorius yang berfungsi sebagai penciuman yang berada pada bagian atas selput lender hidung. Nervus olfaktorius dilapisi dengan sel-sel yang mengeluarkan fibril-fibril halus dan menjalin dengan bulbus olfaktorius. Bulbus olfaktorius sendiri merupakan bagian otak yang terpencil yang membesar dari saraf olfaktorius. Impuls-impuls bau dihantarkan ileh filum olfaktorium menuju ke bulbus olfaktorius didalam cabang-cabang dendrite sel mitra. Serabut-seravut itu berjalan menuju tructur olfaktorius dan berakhir pada dua daerah utama yaitu lobus temporalis atau area olfaktori medial dan area olfakteria lateral. Dan daerah itulah impuls akan ditafsirkan(Pearce,2002).
Permukaan serebellum berbeda dengan serebrum, karena tampak berlapis-lapis. Serebelum diklasifikasikan mejadi tiga subdivisi utama yaitu arkhiserebellum, paleoserebellum dan neoserebelum.Arkhiserebelum menerima informasi tentang posisi kepala dari system vestibuler dan juga tentang gerakan kepala melalui impuls kinetic dari reseptor di kanalis semisirkularis. Paleoserebelum  menerima impuls aferen dari medulla spinalis melalui traktus spinoserebelaris anterior dan posterior, dan juga dari kuneoserebelaris.  Neoserebelum menerima impuls aferen dari korteks serebelum melalui jaras kortiko-ponto-serebelaris, serta menerima serabut aferen dari traktus olivo serebelaris(Satyanegara dkk, 2010). Gangguan saraf otak kecil atau serebelum akan menyebabkan penderita mengalami gangguan keseimbangan, yakni tidak mampu mempertahankan posisi tubuh ketika berdiri, atau gangguan koordinasi ketika berjalan. Gangguan ini dapat menyebabkan stroke(Wahyu,2007).
Menurut Wibowo dan Widjaja(2009), nervus okulomotorius berada pada tagmentum mesensefali. Saraf okulomotorius berfungsi mengangkat kelopak mata atas dan mempersarafi otot kontriktor yang mengubah ukuran pupil. Pupil adalah lubang yang terdapat pada pusat iris mata yang dapat mengembang dan menguncup seiring dengan kegiatan mata(Muttaqin, 2008). Seseorang yang memiliki gangguan pada nervus okulomotornya berdampak pada kerja pupil dalam menanggapi rangsang cahaya(Gilroy,2000). Nervus okulomotorik terbagi menjadi dua komponen utama yaitu nuklus parasimpatik dan kompleks nucleus okulomotor. Dimana pada nucleus parasimpatik mensyarafi otot-otot intra ocular. Sedangkan Kompleks nucleus okulomotor terletak lebih lateral dan mensarafi 4 dari 6 otot ekstra ocular(Wibowo dan Widjaja,2009).
Serebelum terletak di otak belakang sebelah posterior batang otak. Serebelum membantu mempertahankan keseimbangan dan bertanggung jawab untuk respons otot rangka halus sehingga menghasilkan serakan volunteer yang baik dan terarah. Serebelum juga berfungsi mengontrol gerakan cepat dan berulang yang diperlukan untuk aktivitas seperti mengetik, bermain piano dan mengendarai sepeda(Corwin, 2008). Serebelum berfungsi untuk mengirimkan impuls ke sepanjang serabut neuron motorik. Hal ini memberikan latar belakang tonus otot untuk mempertahankan portur dan mengatur kerja berbagai kelompok otot yang terlibat(Broom,2005).
Reseptor bagi sensasi membau terdapat di dalam ephitelilum olfaktorius pada mukosa hidung(Fawcett,1994) Ephitelium olfaktorius pada mukosa hidung dapat diidentifikasikan berdasarkan adanya glandula bowman dan akson olfaktorius dalam lamina proprianya, serta ephitelium yang menciri dengan adanya tiga tipe khas yaitu sel sustentakulum, reseptor saraf olfaktorius dan sel basal(Smith dkk,2004). Menurut Dellmann dan Brown(1992), ephitelium olfaktorius dapat diidentifikasikan berdasarkan banyaknya berkas serabut saraf tanpa myelin dalam lamina propria. Mukosa olfaktorius dilapisi oleh ephithelium silinder berlapis dan bersilia yang terdiri dari tiga sel utama yaitu sel basal, sel olfaktori dan sel penunjang. Selain itu epitel olfaktorius terdiri dari neuron olfaktorius(Rowe dkk, 2005). Neuron ephitelium olfaktorius berada pada bagian superior kavum nasi yang tidak terspesialisasi untuk menskresi mucus(Pearce,2002).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepekaan dalam menebak bau adalah pengalaman. Karena pada saat seseorang sebelum-sebelumnya pernah membau dari bau yang telah dibau maka secara langsung akan mempermudah seseorang dalam menebak bau yang telah dibaunya. Menurut Coon dan John(2010), faktor yang dapat mempengaruhi kepekaan seseorang dalam membau  dapat berupa usia, suhu, kebiasaan dan riwayat kesehatan, serta kehamilan. Pada saat seseorang berusia lanjut maka akan mengurangi dalam kepekaan membau dikarenakan berkurangnya kemampuan sel-sel reseptor dalam membau. Pada saat hamil, beberapa ibu biasanya memiliki kepekaan bau yag sangat tinggi dibandingkan saat tidak hamil hal ini dapat disebabkan peningkatan hormone esterogen.
IV.ALAT DAN BAHAN:
NO
ALAT
JUMLAH
1
Bawang putih
1 biji
2
Serbuk kopi
Secukupnya
3
Cotton bud
2
4
Buku bacaan
1
5
Stop watch
1 buah
6
pensil
1
           







V.PROSEDUR KERJA:
NO
P R O S E D U R  K E R J A
A.
UJI SARAF CRANIAL
1.NERVOUS OLFAKTORI
·         Meminta praktikan duduk dan menutup matanya.
·         Serbuk kopi dilewat-lewatkan dari depan hidung
·         Kemudian irisan bawang
·         Kemudian menanyakan praktikan bau apa yang tercium
·         Mengulangi secara acak
·         Mencatat hasilnya
2.nervous optikus
·         Membuka halaman buku penuh dengan tulisan
·         Praktikan membaca buku tersebut selama 1 menit
·         Kemudian menghitung jumlah kata yang dibaca praktikan tersebut
3.nervous acumulator
·         Meminta praktikan memperhatikan pensil yang digerakkan beberapa kali arah vertikal,horizontal,sorong kiri,sorong kanan,dan berputar
·         Memperhatikan kepala praktikan apakah bergerak mengikuti araah pensil yang digerakkan
4.nervous facialis
·         Meminta praktikan tersenyum sambil menunjukkan giginya,menggembungkan pipinya,mengerutkan dahinya,mengangkat  alis satu persatu maupun bersamaan
·         Mencatat hasilnya
B.
UJI SARAF KECIL
Meminta praktikan untuk:
·         Merentangkan kedua lengan kesamping dan menggerakkan semua jari dengan cepat
·         mereentangkan kedua lengan kesamping dan saling silangkan semua jari dengan rapat
·         menolehkan kepala kesamping dengan pandangan lurus kesamping ,berjalanlah maju dengan meletakkan tumit yang satu didepan ujung jari kaki yang lain
·         menutup mata dan berdiri tegak selama satu menit
·         menutup mata dan menyentuh hidung dengan telunjuk kanan
·         menutup mata dan menunjuk hidung dengan telunjuk kiri
·         mennyentuh telunjuk kanan
·         berdiri tegak dan menggerakkan kaki kiri keatas kebawah menggesere sepanjang kaki kiri
·         dan sebaliknya

VI.HASIL PERCOBAAN/REAKSI:
Berikut ini merupakan hasil pengujian pada uji nervus olfaktorius pada masing-masing probandus dengan perlakuan yang sama :
Tabel 1. Hasil uji nervus olfaktorius
NO
PROBANDUS
MENCIUM BAU
MEMBEDAKAN BAU
YA
TIDAK
YA
TIDAK
1
EVI S R
ü   
-
ü   
-
2
JASMAN F S
ü   
-
ü   
-
Ket :
ü   =  dapat mencium atau membedakan bau
-           =  tidak dapat membedakan bau dan mencium bau
Dari hasil data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa semua probandus dapat mencium bau dan membedakan bau meskipun dalam keadaan mata tertutup. Hal ini menandakan bahwa semua probandus tidak memiliki kepekaan yang baik dalam membau, baik dalam kondisi sehat ataupun sakit.
Seseorang dapat membau karena zat yang berupa gas tersebut masuk melalui rongga hidung saat menarik nafas. Zat ini kemudian larut dalan selaput lendir dalam hidung yang kemudian diterima oleh saraf pembau. Selanjutnya, saraf pembau menghantarkan impuls ke otak sehingga otak merespon dengan menimbulkan kesan bau
Berikut ini merupakan table hasil pengamatan dari uji okulomotorius pada setiap probandus :
NO
PROBANDUS
JUMLAH BENAR SALAH
1
JASMAN
SEHAT
5
0
2
NURFITRI
SEHAT
5
0
Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa pada probandus dalam kondisi sakit melakukan lebih banyak kesalahan dibandingkan dengan probandus yang sehat. Hal ini terjadi tidak hanya pada probandus laki-laki, namun pada probandus perempuan juga. Sedangkan pada probandus laki-laki dan perempuan sehat sama sekali tidak melakukan kesalahan atau benar semua dalam melakukan gerakan
Berikut ini merupakan tabel hasil pengujian dari uji saraf otak kecil pada setiap probandus:
NO
PROBANDUS
Waktu Pelaksanaan (detik)
Benar/Salah
1
2
3
1
2
3
1.
EVI S R
8
6
10
++
++
+++
2.
NUR FITRI
8
6
4
++
+++
+++
Ket  :   +          = Salah
            ++        = Benar sebagian
            +++     = Benar utuh

Berbeda pada uji okulomotor, pada hasil uji saraf otak kecil terlihat bahwa kesalahan banyak dilakukan justru pada probandus yang memiliki kondisi sehat dibandingkan pada probandus yang berkondisi sakit. Hal ini terjadi pada probandus laki-laki ataupun perempuan. Mungkin ini dapat disebabkan karena probandus sehat baik laki-laki ataupun perempuan kurang memahami atau mensalah artikan perintah yang diberikan oleh asisten praktikum sehingga akan terjadi kesalahan. Sedangkan untuk waktu pada probandus perempuan, relative memiliki waktu yang lama dibandingkan dengan probandus laki-laki dalam memahami dan melakukan gerakan yang diperintahkan. Selain itu pada probandus sehat juga memakan waktu yang lebih lama, dibandingkan dengan probandus dalam kondisi sakit.


VII.KESIMPULAN
Otak terbagi atas 5 besar yaitu otak besar, otak kecil, medulla oblongata, otak tengah dan jembatan varol. Hasil pada uji otak besar dilakukan uji olfaktorius yaitu dapat diketahui bahwa pada semua probandus dapat membedakan dan mencium bau yang telah diujikan. Sedangkan pada uji okulomotor kondis probandus yang sehat memiliki kesalahan lebih besar dibandingkan dengan probandus sakit baik pada perempuan ataupun laki-laki . Hasil pada uji otak kecil terlihat bahwa probandus perempuan memerlukan waktu yang relative lebih lama dibandingkan dengan probandus laki-laki dalam memahami dan melakukan perintah dan probandus laki-laki ataupun perempuan pada kondisi sakit memiliki ketepatan dalam melakukan perintah lebih banyak benar dibandingkan probandus pada kondisi sehat. 
VIII.JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS
IX.DAFTAR PUSTAKA:
Broom, Bryan. 2005. Anatomi Fisioloagi kelenjar endokrin dan system persyarafan. Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.
Con, D dan John O.M. 2010. Introduction To Psichology : Gateways to mind and behavior 12 th edition. Wadsworth Cangage Learning, United Stated of American.
Corwin, Elizabeth J. 2008. Handbook of Pathopophysiology third edition. Lippicott Williams and Wilkins, Inc., United States of American.
Dellmann dan Brown. 1992. Buku Teks HistologiVeteriner. Penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Fawcett, D.W. 1994. Buku Ajar Histologi edisi ke 12. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Gilroy, John. 2000.  Abnormalitas of pupilary light Reflex. Mc Graw-Hill, New York.
Medicaldictionary. 2012. Oculomotor Nerve. http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/oculomotor+nerves. Diakses 19 November 2012.
Muttaqin, Arif. 2008. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan Sistem Persyarafan. Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
Nursing411. 2012. What does The Nose do? nursing411.org. Tanggal akses 18 November 2012.
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomy and Physiology for Nurses. Jakarta : PT. Gramedia.
Rowe, T.B. ett all. 2005. Organization of the olfactory and respiratory skeleton in the nose of the gray short-tailed Opossum monodelphins domestics. Journal Of Mammalian Evolution, Vol. 12 : 328.
Setyanegara dkk. Ilmu Bedah Saraf. Penrbit Gramedia, Jakarta.
Sloane, Ethel. 1994. Anatomy and Physiology : An easy Learner. Jones and Bartlett Publisher, Inc. United States of American.
Smith,  T.D., Bhatnagar, K.P., Tuladhar, P. Burrows, A.M. 2004. Distribution of olfactory ephitelium in the primate nasal cavity : are microsmia and macrosmia valid morphological concepts. The Anatomical Record, Part A 28IA:1173-1181.
Wahyu, Genis Ginanjar. 2007. Stroke tidak hanya menyerang orang tua. PT Mizan Publika, Jogjakarta.


                                                                                                                                            MEDAN,29 APRIL 2013
DOSEN/ASISTEN                                                                                         PRAKTIKAN
(FEBRI ALEMI SEMBIRING)                                                                    KELOMPOK 4

NIP/NIM:                                                                                                                NIM:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar